Rabu, 23 Maret 2011

ORANG HUTAN

Orang utan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa

Langsung ke: navigasi, cari

?Orangutan[1]

Orangutan.jpg

Status konservasi

Status konservasi: Terancam

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan:

Animalia

Filum:

Chordata

Kelas:

Mamalia

Ordo:

Primata

Famili:

Hominidae

Upafamili:

Ponginae
Elliot, 1912

Genus:

Pongo
Lacépède, 1799

Tipe spesies

Simia pygmaeus
Linnaeus, 1760

Distribusi Orang utan

Distribusi Orang utan

Spesies

Pongo pygmaeus
Pongo abelii

Orang utan (atau orangutan, nama lainnya adalah mawas) adalah sejenis kera besar dengan lengan panjang dan berbulu kemerahan atau cokelat, yang hidup di hutan tropika Indonesia dan Malaysia, khususnya di Pulau Kalimantan dan Sumatera.[2] [3]

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Deskripsi

Istilah "orang utan" diambil dari bahasa Melayu, yang berarti manusia (orang) hutan. Orang utan mencakup dua spesies, yaitu orang utan sumatera (Pongo abelii) dan orang utan kalimantan (borneo) (Pongo pygmaeus). [4] Yang unik adalah orang utan memiliki kekerabatan dekat dengan manusia pada tingkat kingdom animalia, dimana orang utan memiliki tingkat kesamaan DNA sebesar 96.4%.[5]

[sunting] Ciri-Ciri

Mereka memiliki tubuh yang gemuk dan besar, berleher besar, lengan yang panjang dan kuat, kaki yang pendek dan tertunduk, dan tidak mempunyai ekor.[6]

Orangutan memiliki tinggi sekitar 1.25-1.5 meter.[7]

Tubuh orangutan diselimuti rambut merah kecoklatan.[3] Mereka mempunyai kepala yang besar dengan posisi mulut yang tinggi.[6]

Saat mencapai tingkat kematangan seksual, orangutan jantan memiliki pelipis yang gemuk pada kedua sisi, ubun-ubun yang besar, rambut menjadi panjang dan tumbuh janggut disekitar wajah.[8] Mereka mempunyai indera yang sama seperti manusia, yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap, dan peraba.[6]

Berat orangutan jantan sekitar 50-90 kg, sedangkan orangutan betina beratnya sekitar 30-50 kg.[7]

Telapak tangan mereka mempunyai 4 jari-jari panjang ditambah 1 ibu jari.[6] Telapak kaki mereka juga memiliki susunan jari-jemari yang sangat mirip dengan manusia.[6]

Orangutan masih termasuk dalam spesies kera besar seperti gorila dan simpanse.[4] Golongan kera besar masuk dalam klasifikasi mammalia, memiliki ukuran otak yang besar, mata yang mengarah kedepan, dan tangan yang dapat melakukan genggaman.[4]

[sunting] Klasifikasi

Orangutan termasuk hewan vertebrata, yang berarti bahwa mereka memiliki tulang belakang.[rujukan?] Orangutan juga termasuk hewan mamalia dan primata.[rujukan?]

[sunting] Spesies dan Subspesies

1. Ada 2 jenis spesies orangutan, yaitu orangutan Kalimantan/Borneo (Pongo pygmaeus) dan Orangutan Sumatra (Pongo abelii).[9]

2. Keturunan Orangutan Sumatra dan Kalimantan berbeda sejak 1.1 sampai 2.3 juta tahun yang lalu. [9]

3. Subspecies

  • Pembelajaran genetik telah mengidentifikasi 3 subspesies Orangutan Borneo : P.p.pygmaeus, P.p.wurmbii, P.p.morio.[9] Masing-masing subspesies berdiferensiasi sesuai dengan daerah sebaran geografisnya dan meliputi ukuran tubuh.[9]
  • Orangutan Kalimantan Tengah (P.p.wurmbii) mendiami daerah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.[9] Mereka merupakan subspesies Borneo yang terbesar.[9]
  • Orangutan Kalimantan daerah Timur Laut (P.p.morio) mendiami daerah Sabah dan daerah Kalimantan Timur.[9] Mereka merupakan subspesies yang terkecil.[9]
  • Saat ini tidak ada subspecies orangutan Kalimantan yang berhasil dikenali.[9]

[sunting] Lokasi dan habitat

Orang utan di Taman Nasional Kutai

Orangutan ditemukan di wilayah hutan hujan tropis Asia Tenggara, yaitu di pulau Borneo dan Sumatra di wilayah bagian negara Indonesia dan Malaysia.[rujukan?] Mereka biasa tinggal di pepohonan lebat dan membuat sarangnya dari dedaunan.[rujukan?] Orangutan dapat hidup pada berbagai tipe hutan, mulai dari hutan dipterokarpus perbukitan dan dataran rendah, daerah aliran sungai, hutan rawa air tawar, rawa gambut, tanah kering di atas rawa bakau dan nipah, sampai ke hutan pegunungan.[rujukan?] Di Borneo, orangutan dapat ditemukan pada ketinggian 500 m di atas permukaan laut (dpl), sedangkan kerabatnya di Sumatra dilaporkan dapat mencapai hutan pegunungan pada 1.000 m dpl.[rujukan?]

Orangutan Sumatra (Pongo abelii lesson) merupakan salah satu hewan endemis yang hanya ada di Sumatra.[rujukan?] Orangutan di Sumatra hanya menempati bagian utara pulau itu, mulai dari Timang Gajah, Aceh Tengah sampai Sitinjak di Tapanuli Selatan.[rujukan?]Keberadaan hewan mamalia ini dilindungi Undang-Undang 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan digolongkan sebagai Critically Endangered oleh IUCN.[10] Di Sumatra, salah satu populasi orangutan terdapat di daerah aliran sungai (DAS) Batang Toru, Sumatra Utara.[rujukan?] Populasi orangutan liar di Sumatra diperkirakan sejumlah 7.300[11]. Di DAS Batang Toru 380 ekor dengan kepadatan pupulasi sekitar 0,47 sampai 0,82 ekor per kilometer persegi. Populasi orangutan Sumatra (Pongo abelii lesson) kini diperkirakan 7.500 ekor.[rujukan?] Padahal pada era 1990 an, diperkirakan 200.000 ekor.[rujukan?] Populasi mereka terdapat di 13 daerah terpisah secara geografis.[rujukan?] Kondisi ini menyebabkan kelangsungan hidup mereka semakin terancam punah. [1] Saat ini hampir semua Orangutan Sumatra hanya ditemukan di Provinsi Sumatra Utara dan Provinsi Aceh, dengan Danau Toba sebagai batas paling selatan sebarannya.[rujukan?] Hanya 2 populasi yang relatif kecil berada di sebelah barat daya [[danau], yaitu Sarulla Timur dan hutan-hutan di Batang Toru Barat.[10] Populasi orangutan terbesar di Sumatra dijumpai di Leuser Barat (2.508 individu) dan Leuser Timur (1.052 individu), serta Rawa Singkil (1.500 individu).[rujukan?]Populasi lain yang diperkirakan potensial untuk bertahan dalam jangka panjang (viable) terdapat di Batang Toru,Sumatra Utara, dengan ukuran sekitar 400 individu.[rujukan?]

Orangutan di Borneo yang dikategorikan sebagai endangered oleh IUCN terbagi dalam tiga subspesies: Orangutan di Borneo dikelompokkan ke dalam tiga anak jenis, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus yang berada di bagian utara Sungai Kapuas sampai ke timur laut Sarawak; Pongo pygmaeus wurmbii yang ditemukan mulai dari selatan Sungai Kapuas hingga bagian barat Sungai Barito; dan Pongo pygmaeus morio.[rujukan?] Di Borneo, orangutan dapat ditemukan di Sabah, Sarawak, dan hampir seluruh hutan dataran rendah Kalimantan, kecuali Kalimantan Selatan dan Brunei Darussalam.[12]

[sunting] Makanan

Meskipun orangutan termasuk hewan omnivora, sebagian besar dari mereka hanya memakan tumbuhan.[6] 90% dari makanannya berupa buah-buahan.[4] Makanannya antara lain adalah kulit pohon, dedaunan, bunga, beberapa jenis serangga, dan sekitar 300 jenis buah-buahan[13]

Selain itu mereka juga memakan nektar,madu dan jamur.[4] Mereka juga gemar makan durian, walaupun aromanya tajam, tetapi mereka menyukainya. [4]

Orangutan bahkan tidak perlu meninggalkan pohon mereka jika ingin minum. Mereka biasanya meminum air yang telah terkumpul di lubang-lubang di antara cabang pohon.[6]

Biasanya induk orangutan mengajarkan bagaimana cara mendapatkan makanan, bagaimana cara mendapatkan makanan, dan berbagai jenis pohon pada musim yang berbeda-beda.[13] Melalui ini, dapat terlihat bahwa orangutan ternyata memiliki peta lokasi hutan yang kompleks di otak mereka, sehingga mereka tidak menyia-nyiakan tenaga pada saat mencari makanan.[13] Dan anaknya juga dapat mengetahui beragam jenis pohon dan tanaman, yang mana yang bisa dimakan dan bagaimana cara memproses makanan yang terlindungi oleh cangkang dan duri yang tajam. [13]

[sunting] Predator

Predator terbesar orangutan dewasa ini adalah manusia.[6] Selain manusia, predator orangutan adalah macan tutul, babi, buaya, ular phyton, dan elang hitam.[6]

[sunting] Cara melindungi diri

Orangutan termasuk makhluk pemalu. Mereka jarang memperlihatkan dirinya kepada orang atau makhluk lain yang tak dikenalnya.[rujukan?]

[sunting] Reproduksi

Orangutan betina biasanya melahirkan pada usia 7-10 tahun dengan lama kandungan berkisar antara 8,5 hingga 9 bulan; hampir sama dengan manusia. Jumlah bayi yang dilahirkan seorang betina biasanya hanya satu. Bayi orangutan dapat hidup mandiri pada usia 6-7 tahun. Kebergantungan orangutan pada induknya merupakan yang terlama dari semua hewan, karena ada banyak hal yang harus dipelajari untuk bisa bertahan hidup, mereka biasanya dipelihara hingga berusia 6 tahun. [8]

Orangutan berkembangbiak lebih lama dibandingkan hewan primata lainnya, orangutan betina hanya melahirkan seekor anak setiap 7-8 tahun sekali.[5] Umur orangutan di alam liar sekitar 45 tahun, dan sepanjang gidupnya orangutan betina hanya memiliki 3 keturunan seumur hidupnya.[5] Dimana itu berarti reproduksi orangutan sangat lambat.[5]

[sunting] Cara bergerak

Orangutan dapat bergerak cepat dari pohon ke pohon dengan cara berayun pada cabang-cabang pohon, atau yang biasa dipanggil brachiating.[6] Mereka juga dapat berjalan dengan kedua kakinya, namun jarang sekali ditemukan. Orang utan tidak dapat berenang.[6]

[sunting] Cara Hidup

Tidak seperti gorila dan simpanse, orangutan tidak hidup dalam sekawanan yang besar.[4] Mereka merupakan hewan yang semi-soliter.[4] Orangutan jantan biasanya ditemukan sendirian dan orangutan betina biasanya ditemani oleh beberapa anaknya.[4] Walaupun oranutan sering memanjat dan membangun tempat tidur dipohon, mereka pada intinya merupakan hewan terrestrial(menghabiskan hidup ditanah).[14]

[sunting] Beberapa fakta menarik

  • Orangutan dapat menggunakan tongkat sebagai alat bantu untuk mengambil makanan, dan menggunakan daun sebagai pelindung sinar matahari.[15]
  • Orangutan jantan terbesar memiliki rentangan lengan (panjang dari satu ujung tangan ke ujung tangan yang lain apabila kedua tangan direntangkan) mencapai 2.3 m.[8]
  • Orangutan jantan dapat membuat panggilan jarak jauh yang dapat didengar dalam radius 1 km.[8] Digunakan untuk menandai/mengawasi arealnya, memanggil sang betina, mencegah orang utan jantan lainnya yang mengganggu. Mereka mempunyai kantung tenggorokan yang besar yang membuat mereka mampu melakukannya.[8]

[sunting] Populasi

Orangutan saat ini hanya terdapat di Sumatra dan Kalimantan, di wilayah Asia Tenggara.[16] Karena tempat tinggalnya merupakan hutan yang lebat, maka sulit untuk memperkirakan jumlah populasi yang tepat.[16] Di Borneo, populasi orangutan diperkirakan sekitar 55.000 individu.[16] Di Sumatra, jumlahnya diperkirakan sekitar 7.500 individu.[16]

[sunting] Ancaman

Ancaman terbesar yang tengah dialami oleh orangutan adalah habitat yang semakin sempit karena kawasan hutan hujan yang menjadi tempat tinggalnya dijadikan sebagai lahan kelapa sawit, pertambangan dan pepohonan ditebang untuk diambil kayunya.[4] Orangutan telah kehilangan 80% wilayah habitatnya dalam waktu kurang dari 20 tahun.[4] Tak jarang mereka juga dilukai dan bahkan dibunuh oleh para petani dan pemilik lahan karena dianggap sebagai hama.[4] Jika seekor orangutan betina ditemukan dengan anaknya, maka induknya akan dibunuh dan anaknya kemudian dijual dalam perdagangan hewan ilegal. Pusat rehabilitasi didirikan untuk merawat oranutan yang sakit, terluka dan yang telah kehilangan induknya. [4] Mereka dirawat dengan tujuan untuk dikembalikan ke habitat aslinya. [4]

[sunting] Pembukaan Lahan dan Konversi Perkebunan Sawit

Di Sumatra, populasinya hanya berada di daerah Leuser, yang luasnya 2.6 juta hektare yang mencakup Aceh dan Sumatra Utara.[17] Leuser telah dinyatakan sebagai salah satu dari kawasan keanekaragaman hayati yang terpenting dan ditunjuk sebagai UNESCO Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera pada tahun 2004.[17] Ekosistemnya menggabungkan Taman Nasional Gunung Leuser, tetapi kebanyakan para Orangutan tinggal diluar batas area yang dilindungi, dimana luas hutan berkurang sebesar 10-15% tiap tahunnya untuk dijadikan sebagai area penebangan dan sebagai kawasan pertanian.[17]

Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami berkurangnya jumlah hutan tropis terbesar didunia.[17] Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan berkurangnya laju deforestasi.[17] Sekitar 15 tahun yang lalu, tercatat sekitar 1.7 juta hektare luas hutan yang terus ditebang setiap tahunnya di Indonesia, dan terus bertambah pada tahun 2000 sebanyak 2 juta hektare.[17]

Penebangan legal dan ilegal telah membawa dampak penyusutan jumlah hutan di Sumatra.[17] Pembukaan hutan sebagai ladang sawit di Sumatra dan Kalimantan juga telah mengakibatkan pembabatan hutan sebanyak jutaan hektare, dan semua dataran hutan yang tidak terlindungi akan mengalami hal yang sama nantinya.[17]

Konflik mematikan yang sering terjadi di perkebunan adalah saat dimana Orangutan yang habitatnya makin berkurang karena pembukaan hutan harus mencari makanan yang cukup untuk bertahan hidup.[17] Spesies yang dilindungi dan terancam punah ini seringkali dipandang sebagai ancaman bagi keuntungan perkebunan karena mereka dianggap sebagai hama dan harus dibunuh.[17]

Orangutan biasanya dibunuh saat mereka memasuki area perkebunan dan merusak tanaman.[18] Hal ini sering terjadi karena orangutan tidak bisa menemukan makanan yang mereka butuhkan di hutan tempat mereka tinggal.[18]

[sunting] Perdagangan Ilegal

Secara teori, orangutan telah dilindungi di Sumatra dengan peraturan perundang-undangan sejak tahun 1931, yang melarang untuk memiliki, membunuh atau menangkap orangutan.[17] Tetapi pada prakteknya, para pemburu masih sering memburu mereka, kebanyakan untuk perdagangan hewan.[17] Pada hukum internasional, orangutan masuk dalam Appendix I dari daftar CITES(Convention on International Trade in Endangered Species) yang melarang dilakukannya perdagangan karena mengingat status konservasi dari spesies ini dialam bebas.[17] Namun, tetap saja ada banyak permintaan terhadap bayi orangutan, baik itu permintaan lokal, nasional dan internasional untuk dijadikan sebagai hewan peliharaan.[17] Anak orangutan sangat bergantung pada induknya untuk bertahan hidup dan juga dalam proses perkembangan, untuk mengambil anak dari orangutan maka induknya harus dibunuh.[17] Diperkirakan, untuk setiap bayi yang selamat dari penangkapan dan pengangkutan merepresentasikan kematian dari orangutan betina dewasa.[17]

Menurut data dari website WWF, diperkirakan telah terjadi pengimporan orangutan ke Taiwan sebanyak 1000 ekor yang terjadi antara tahun 1985 dan 1990.[18] Untuk setiap orangutan yang tiba di Taiwan, maka ada 3 sampai 5 hewan lain yang mati dalam prosesnya.[18]

Perdagangan orangutan dilaporakan juga terjadi di Kalimantan, dimana baik orangutan itu hidaup atau mati juga masih tetap terjual.[18]

[sunting] Status Konservasi

Orangutan Sumatra telah masuk dalam klasifikasi Critically Endangered dalam daftar IUCN. Populasinya menurun drastis dimana pada tahun 1994 jumlahnya mencapai lebih dari 12.000, namun pada tahun 2003 menjadi sekitar 7.300 ekor.[17] Data pada tahun 2008 melaporkan bahwa diperkirakan jumlah Orangutan Sumatra di alam liar hanya tinggal sekitar 6.500 ekor.[17]

Secara historis, orangutan ditemukan di kawasan hutan lintas Sumatra, tetapi sekarang terbatas hanya didaerah Sumatra Utara dan provinsi Aceh.[17] Habitat yang sesuai untuk Orangutan saat ini hanya tersisa sekitar kurang dari 900.000 hektare di pulau Sumatra.[17]

Saat ini diperkirakan orangutan akan menjadi spesies kera besar pertama yang punah di alam liar.[17] Penyebab utamanya adalah berkurangnya habitat dan perdagangan hewan.[17]

Orangutan merupakan spesies dasar bagi konservasi.[17] Orangutan memegang peranan penting bagi regenerasi hutan melalui buah-buahan dan biji-bijian yang mereka makan.[17] Hilangnya orangutan mencerminkan hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan hujan.[17]

Hutan primer dunia yang tersisa merupakan dasar kesejahteraan manusia, dan kunci dari planet yang sehat adalah keanekaragaman hayati, menyelamatkan orangutan turut menolong mamalia, burung, reptil, amfibi, serangga, tanaman, dan berbagain macam spesies lainnya yang hidup di hutan hujan Indonesia.[1

Rabu, 16 Februari 2011

Senin, 08 Februari 2010

bunga teratai

Teratai
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
?Teratai
Teratai putih (Nymphaea alba)
Teratai putih (Nymphaea alba)
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Nymphaeales
Famili: Nymphaeaceae
Genus: Nymphaea
Spesies

Sekitar 50 species:
Nymphaea alba
Nymphaea amazonium
Nymphaea ampla
Nymphaea blanda
Nymphaea caerulea
Nymphaea calliantha
Nymphaea candida
Nymphaea capensis
Nymphaea citrina
Nymphaea colorata
Nymphaea elegans
Nymphaea fennica
Nymphaea flavovirens
Nymphaea gardneriana
Nymphaea gigantea
Nymphaea heudelotii
Nymphaea jamesoniana
Nymphaea lotus
Nymphaeae lutea
Nymphaea mexicana
Nymphaea micrantha
Nymphaea odorata
Nymphaea pubescens
Nymphaea rubra
Nymphaea rudgeana
Nymphaea stellata
Nymphaea stuhlmannii
Nymphaea sulfurea
Nymphaea tetragona
Nymphaea tuberosa

Teratai (Nymphaea) adalah nama genus untuk tanaman air dari suku Nymphaeaceae. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai water-lily atau waterlily. Di Indonesia, teratai juga digunakan untuk menyebut tanaman dari genus Nelumbo (lotus). Pada zaman dulu, orang memang sering mencampuradukkan antara tanaman genus Nelumbo seperti seroja dengan genus Nymphaea (teratai). Pada Nelumbo, bunga terdapat di atas permukaan air (tidak mengapung), kelopak bersemu merah (teratai berwarna putih hingga kuning), daun berbentuk lingkaran penuh dan rimpangnya biasa dikonsumsi.

Tanaman tumbuh di permukaan air yang tenang. Bunga dan daun terdapat di permukaan air, keluar dari tangkai yang berasal dari rizoma yang berada di dalam lumpur pada dasar kolam, sungai atau rawa. Tangkai terdapat di tengah-tengah daun. Daun berbentuk bundar atau bentuk oval yang lebar yang terpotong pada jari-jari menuju ke tangkai. Permukaan daun tidak mengandung lapisan lilin sehingga air yang jatuh ke permukaan daun tidak membentuk butiran air.

Bunga terdapat pada tangkai yang merupakan perpanjangan dari rimpang. Diameter bunga antara 5-10 cm.

Teratai terdiri dari sekitar 50 spesies yang tersebar dari wilayah tropis hingga daerah subtropis seluruh dunia. Teratai yang tumbuh di daerah tropis berasal dari Mesir.
Daftar isi
[sembunyikan]

* 1 Manfaat
* 2 Sejarah
* 3 Perbedaan dengan Nuphar
* 4 Pranala luar

[sunting] Manfaat

Teratai menjadi tanaman di kebun-kebun karena bunganya yang indah. Pelukis Perancis bernama Claude Monet terkenal dengan lukisan bunga teratai.
[sunting] Sejarah

Pada zaman Mesir kuno, teratai dan lotus banyak tumbuh di pinggir Sungai Nil. Nymphaea caerulea dan Nymphaea lotus adalah dua spesies yang berasal dari Mesir. Bunga N. caerulea hanya berumur sehari, mekar di pagi hari dan tenggelam di bawah air di senja hari. Bunga dari N. lotus mekar pada malam hari dan menguncup di pagi hari. Peninggalan dari kedua jenis teratai asli Mesir ini ditemukan di makam Ramses II.
[sunting] Perbedaan dengan Nuphar

Teratai masih satu suku dengan genus Nuphar yang perbedaannya terletak pada besar daun mahkota. Bunga teratai memiliki daun mahkota yang lebih besar dari daun kelopak, sedangkan genus Nuphar memiliki daun mahkota yang lebih kecil daripada daun kelopak. Pematangan buah Teratai terjadi di bawah permukaan air, berbeda dengan pematangan buah dari genus Nuphar yang terjadi di atas permukaan air.
Ornamen ukiran teratai (Kambang Talipuk) pada Rumah Bubungan Tinggi Anjungan Kalimantan Selatan TMII Jakarta.
[sunting] Pranala luar

* Tanaman obat Indonesia: Teratai
* Cantiknya Warna-Warni Teratai


Blue morpho butterfly.jpg Artikel bertopik biologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Teratai"
Kategori: Tumbuhan | Bunga | Tanaman air

Jumat, 06 November 2009

BUAH WALU

Jumat, 06 November 2009

Waluh Eksotis
Berkhasiat
dan Kian digemari

Janganlah anda merasa heran bila suatu saat di sepanjang jalan ada yang berjualan buah bentuknya bulat sebesar batok kelapa dengan warna oranye menyala, hijau bergaris putih atau juga hijau muda. Meskipun beragam namun semuanya merujuk pada satu jenis buah yaitu buah labu atau yang lebih dikenal dengan waluh. Di negara Thailand maupun negara pertanian yang sudah maju, jenis buah waluh ini malah lebih beragam. Ada yang bulat sampai gepeng, dengan tekstur halus maupun kasar hingga berbintil-bintil. Tentu saja ini berbeda dengan bentuk waluh yang sering kita konsumsi yang umumnya berbentuk gepeng, kulit tidak beraturan, warna kuning kecoklatan agak pucat, dagingnya oranye, kulitnya mulus dengan tonjolan melingkar dari atas ke bawah serta ukurannya besar-besar.

Waluh yang dipasarkan saat ini lebih eksotik, bervariasi dan beragam
Waluh yang biasa dikonsumsi dan sering dijumpai dipasar

Waluh yang ada sekarang terkesan lebih eksotik dan tidak makan tempat. Selain bentuknya bagus dan seragam, ukurannya pun tidak terlalu besar. Lebih dari itu, rasa dagingnya pun lebih manis. Meskipun bobotnya lebih ringan, waluh-waluh eksotik ini rupanya mulai digemari masyarakat karena selain penampilannya yang bagus, juga lebih efisien saat dibawa-bawa. Dengan hadirnya berbagai macam jenis waluh ini, maka konsumen tentunya akan memiliki vari-asi dalam memilih buah waluh untuk dimasak. Namun sayang, waluh (Cucurbita pepo, L) yang merupakan tanaman timun-timunan ini belum begitu dikenal luas manfaatnya di Indonesia. Padahal dengan kandungan vitamin A dan C yang tinggi namun rendah kalori, buah waluh ini sangat baik untuk dimanfaatkan sebagai menu makanan. Buah waluh ini dapat disimpan lebih dari 6 bulan dalam kondisi apapun sehingga wajar bila di negara yang memiliki mu-sim dingin, banyak yang menyimpannya sebagai cadangan makanan. Ukuran buah waluh ini bervariasi dari yang kecil hingga ukuran raksasa. Namun umumnya ukuran waluh normal rata-rata 4 – 8 Kg. Penampilan tanaman waluh eksotik ini tidak jauh berbeda dengan waluh biasa yaitu memiliki batang yang keras berongga, daunnya berbulu halus , lebar dan dapat menjalar jauh.

Kaya Kandungan Gizi dan Cegah Batu Ginjal
Selama ini masyarakat kita lebih mengenal buah waluh hanya digunakan untuk kolak, atau sayuran. Sedangkan di negara Amerika Serikat, buah waluh banyak digunakan untuk kue, campuran pakan ternak maupun dekorasi terutama saat Hari Halloween. Namun hanya sedikit yang mengetahui lebih banyak manfaat lain dari buah waluh dengan mengkonsumsinya. Berdasarkan penelitan, di dalam daging waluh yang berwarna oranye tersebut terkandung berbagai macam zat yang berguna bagi kesehatan tubuh seperti : air, citruline, arginin, asparagine, adenin, carotene, niacin, riboflavin, thiamin, karbohidrat, serat, kalsium, pospor, besi, sodium, potassium, vit A, B dan C, lemak, asam askorbat, dan glukosa. Selain dagingnya, biji waluh ternyata mempunyai khasiat bagi kesehatan. Khasiat tersebut dibuktikan oleh beberapa peneliti di Amerika yang memanfaatkannya untuk mengatasi dan mencegah masalah batu ginjal. Bahkan percobaan penelitian yang dilakukan di Thailand mengenai biji waluh ini mengungkapkan bahwa dengan mengkonsumsi biji waluh sebagai camilan dapat membantu mencegah munculnya penyakit batu ginjal. Kurang lebih dibutuhkan 5 – 10 gram biji waluh per hari untuk pencegahan penyakit tersebut.

Bagaimana cara Membudidayakannya?
Waluh dapat tumbuh baik pada tanah dengan tekstur menengah baik di dataran rendah maupun tinggi hingga ketinggian 1500 m dengan suhu rata-rata 15 – 27 o C. Meskipun tanaman waluh lebih toleran terhadap tanah asam, namun sebaiknya pH tanah untuk tempat penanamannya berada pada kisaran 6 – 6.8. Tanah yang mengandung banyak unsur organik sangat membantu dalam proses penyerapan air. Tanah yang kekurangan unsur phospor akan menghambat pertumbuhan buah sedangkan bila tanah kekurangan nitrogen maka selain pertumbuhannya tidak optimal juga tanaman akan menghasilkan ranting maupun batang yang lemah.

Karena ukuran biji/benihnya besar, maka penanamannya bisa dilakukan secara langsung pada lubang tanam yang dibuat di lahan. Namun, untuk memperoleh hasil yang bagus dengan pertumbuhan optimal terutama untuk tanah yang kurang mengandung bahan organik, penyemaian benih terlebih dahulu sangatlah disarankan. Penyemaian dilakukan pada polibag dengan menggunakan media semai campuran pupuk kandang dan pasir (1 : 2). Untuk setiap satu kubik media semai sebaiknya ditambahkan 0.5 kg SP-36. Benih waluh ditanam pada setiap polibag yang telah diisi media semai serta ditata rapi di bedengan semai. Setelah berumur 10 hari , tanaman waluh sudah dapat dipindah-tanamkan ke lahan yang ditandai dengan munculnya 3 daun sempurna. Penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari agar tidak layu.

Tanah yang akan dijadikan tempat penanaman harus diolah terlebih dahulu agar tercipta lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhannnya. Pengolahan tanah dilakukan dengan membajak dan menggaru. Sebelum dilakukan pengolahan, tanah sebaiknya dalam keadaan basah/lembab. Setelah melakukan pengolahan maka tanah dibentuk bedengan.

Cara penanaman waluh dapat dilakukan dengan dua cara yaitu sistem telasah dan sistem para-para. Sistem telasah dilakukan sama seperti menanam untuk tanaman semangka. Bagi petani yang memiliki lahan luas, cara telasah merupakan cara yang sangat cocok, namun bila lahan yang dimiliki sempit, dapat dipakai sistem para-para.

Seperti halnya tanaman budidaya lain, waluh membutuhkan kegiatan pemeliharaan seperti pemupukan, pembersihan gulma, pengendalian hama penyakit, maupun pengairan.
Hama dan penyakit yang menyerang waluh tidak jauh berbeda dengan melon maupun tanaman timun-timunan lainnya. Hama yang paling merugikan tanaman waluh adalah thrips dan kumbang berbintik yang melemahkan perkembangan tanaman akibat kebiasannya memakan daun. Tanaman yang terserang thrips akan berubah menjadi kriting baik pada daun maupun pada tunasnya. Bila thrips tersebut menyerang buah maka buah akan berbentuk benjolan pada kulitnya dan mempunyai bentuk tidak sempurna. Agar serangan hama tidak meluas, maka setiap ditemukan gejala tersebut sebaiknya langsung dilakukan pengendalian dengan insektisida. Sedangkan penyakit yang sering mengganggu perkembangan tanaman waluh adalah downey mildew, powdery mildew serta antracnose (busuk buah), dan bercak batang. Menanam tanaman di areal yang bukan bekas famili timun-timunan sangat dianjurkan dan disarankan agar penyakit tersebut tidak menyebar ke tanaman waluh kita. Apabila hal itu tidak mungkin dilakukan maka satu-satunya jalan adalah melakukan pencegahan dengan memberikan fungisida dengan dosis yang tepat.
Agar diperoleh buah yang serempak dan seragam maka kita perlu melakukan “pewiwilan” yaitu memotong ujung batang yang dilakukan pada ruas ke-5. Dalam satu tanaman cabang yang dipilih sebanyak 2 buah. Dengan pewiwilan tersebut maka diharapkan buah yang tumbuh di masing-masing cabang mempunyai ukuran dan waktu panen yang sama.

Senin, 28 September 2009

REUNI KECIL

Teman , hari raya ini ada tambahan kegembiraan yang saya rasakan . Tahu kenapa ?
Saya ketemu beberapa temen eks SMA dulu , khusus kelas 3 IPA 1 angkatan 82 SMA N 1 Kebumen .
Emang sih gak semuanya datang tapi luamayan untuk kali pertama kita ketemu setelah pisah selama lebih kurang 27 tahun . Bayangkan 27 tahun kita gak ketemu . Setelah lulus SMA tahun 82 kita semua mencari dan menggapai hidup serta penghidupan masing" .
Bangga bangetlah , ternyata teman" sudah berhasil dan sukses .

Ada yang Prof , Doktor , Insinyur , Dokter spesialis , Dosen , Developer , dan dari yang kemarin datang he . . he . . saya paling minimalis ( guru SMA ) .
Hebat-hebat , saya salut sama teman-teman semua . Dan tentu saja terimakasih buat si pencetus ide kumpul-kumpul dan yang sudah mau repot mewujudkan pertemuan tersebut .

Ingat jaman SMA , memang sih kelas 3 ipa 1 , kelas saya itu anaknya pinter-penter semua ( he. . .he . . . ada juga yang cuma agak pinter )

eh cerita tentang reuni kecil to be continued ya , mau ngajar dulu .
puisi tentang " KASIH " itu terus terang bukan bikinan saya . Saya baca lupa dimana dan karena isinya bagus , saya adop saya masukkan ke blog saya . bagus banget isinya . thanks buat penciptanya .

Kamis, 27 Agustus 2009

KASIH
Kasih itu panjang sabar;
Kasih itu murah hati;
Ia tidak cemburu.
Ia tidak memegahkan diri
Ia tidak sombong.
Kasih itu lemah lembut
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan
Ia tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Ia tidak pemarah dan
Ia tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersukacita krn ketidakadilan,
tetapi karena kebenaran.
Ia menutupi segala sesuatu,
Ia percaya segala sesuatu,
Ia mengharapkan segala sesuatu,
Dan Ia sabar menanggung segala sesuatu.
Kasih itu tak berkesudahan

Minggu, 02 Agustus 2009

PROTOZOA

Protoa adalah hewan yang paling sederhana, ber sel satu.

Rabu, 01 Juli 2009

GAMBAR PROTOZOA

PROTOZOA

NAMA-NAMA PROTOZOA

NAMA-NAMA PROTOZOA


NAMA-NAMA PROTOZOA